Sleman, 6 September 2026 — Pembelajaran keterampilan tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas. Untuk memberikan pengalaman yang lebih nyata kepada santri, tim ekstrakurikuler Tata Busana MA Miftahunnajah melaksanakan rihlah edukatif dengan mengunjungi industri tenun dan pusat perdagangan bahan serta perlengkapan busana di Klaten dan Solo, Ahad (6/9/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang belajar santri, agar pembelajaran Tata Busana tidak berhenti pada teori dan praktik di madrasah, tetapi juga mempertemukan santri dengan dunia industri serta lingkungan penyedia bahan dan perlengkapan yang berkaitan langsung dengan bidang yang mereka tekuni.
Lebih dari itu, pelaksanaan rihlah edukatif ini mendapat support dan partisipasi nyata dari orang tua santri, khususnya dalam hal akomodasi transportasi dan berbagai kebutuhan selama perjalanan.
Sebanyak 19 santri, terdiri atas 6 santri putra dan 13 santri putri, mengikuti kegiatan tersebut. Mereka didampingi Ustazah Cahya Wulandari selaku guru pengampu Tata Busana, Pak Heri, Ustazah Fitri, serta orang tua santri Syabiluna kelas 11B.

di depan toko Lurik Prasodjo Pedan Klaten
Rombongan berangkat dari Yogyakarta pada pukul 08.00 WIB dan tiba di tujuan pertama, Pabrik Tenun Lurik Prasodjo, Pedan, Klaten, sekitar pukul 10.00 WIB.
Kunjungan industri menjadi salah satu agenda utama rihlah. Santri memperoleh kesempatan untuk melihat secara lebih dekat lingkungan industri tenun dan mengenal proses yang berkaitan dengan produksi kain lurik.
Pengalaman ini memberikan perspektif baru bagi santri bahwa keterampilan Tata Busana memiliki ruang yang luas. Di balik sebuah karya busana terdapat berbagai proses, mulai dari pemilihan bahan, produksi tekstil, pengolahan, hingga menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai kreativitas.
Dengan melihat langsung aktivitas industri, santri diharapkan semakin memahami hubungan antara keterampilan yang mereka pelajari dalam ekstrakurikuler dengan kebutuhan dan perkembangan dunia usaha maupun industri.
Usai kunjungan industri, rombongan melaksanakan ishoma di rumah Bu Cahya, Klaten, pada pukul 11.30–12.30 WIB. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan menuju Beteng Trade Center (BTC) Solo.


Berkunjung ke rumah Ustadzah Cahya

santri memilih bahan di BTC
Tiba di BTC sekitar pukul 13.15 WIB, santri memanfaatkan waktu hingga pukul 15.00 WIB untuk mencari dan membeli berbagai bahan yang diperlukan dalam kegiatan praktikum ekstrakurikuler Tata Busana.
Agenda ini menjadi bagian yang tidak kalah penting dari rihlah. Santri tidak hanya mendapatkan pengalaman melihat dunia industri, tetapi juga belajar mengenali kebutuhan bahan secara langsung.
Berada di pusat perdagangan tekstil dan busana memberikan kesempatan kepada santri untuk melihat beragam pilihan bahan serta mempertimbangkan kebutuhan praktik yang akan mereka gunakan dalam proses pembelajaran berikutnya.
Setelah menyelesaikan kegiatan di BTC, rombongan melaksanakan salat Asar di Masjid Zayed Solo hingga sekitar pukul 17.00 WIB.
santri di masjid Zayeed Solo



Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju toko jahit Delanggo. Sekitar pukul 17.45–18.15 WIB, santri melengkapi kebutuhan alat dan perlengkapan jahit yang diperlukan untuk mendukung kegiatan praktik Tata Busana.
Rangkaian kegiatan berlanjut dengan salat Magrib yang disambung dengan salat Isya di Masjid Al Aqsho Klaten. Setelah itu, santri menikmati makan malam dan bersantai sejenak di kawasan Alun-Alun Klaten pada pukul 19.20–20.30 WIB.

Kuliner di Alun Alun Klaten

singgah di Masjid Al Aqso Klaten
Rombongan kemudian bertolak kembali menuju Pondok Pesantren Miftahunnajah dan tiba sekitar pukul 22.00 WIB.
Meskipun berlangsung dalam satu hari dengan agenda yang cukup padat, setiap rangkaian kegiatan dirancang memiliki tujuan pembelajaran. Mulai dari mengenal industri tenun secara langsung, melihat lingkungan dunia kerja, mengenali bahan tekstil, memenuhi kebutuhan praktikum, hingga melengkapi perlengkapan jahit.
Dengan demikian, rihlah edukatif ini tidak sekadar menjadi perjalanan luar madrasah, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada santri.
Salah satu hal yang patut mendapat apresiasi dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah support luar biasa dari para orang tua santri.
Rihlah menggunakan tiga armada, yakni satu mobil pondok dan dua mobil milik orang tua santri. Partisipasi tersebut turut membantu kelancaran mobilitas rombongan selama mengikuti seluruh agenda kegiatan.
Dukungan orang tua tidak berhenti pada penyediaan transportasi. Keterlibatan mereka menjadi bentuk nyata sinergi keluarga dengan madrasah dalam mendukung program pengembangan keterampilan dan pengalaman belajar santri.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan santri dapat semakin kuat ketika terdapat keterlibatan berbagai pihak. Madrasah menyiapkan program dan pendampingan, santri menjalani proses belajar dengan aktif, sementara orang tua memberikan dukungan agar program tersebut dapat terlaksana dengan baik.
Support orang tua dalam kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kepercayaan terhadap program pengembangan potensi santri. Terlebih, ekstrakurikuler Tata Busana tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis menjahit, tetapi juga membuka pengalaman santri untuk mengenal bahan, industri, proses produksi, kreativitas, ketelitian, dan kemandirian.
Rihlah edukatif Tata Busana MA Miftahunnajah menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang membawa santri keluar dari rutinitas pembelajaran di madrasah.
Kunjungan ke Industri Tenun Lurik Prasodjo memberikan pengalaman mengenal dunia industri, sementara BTC Solo dan toko jahit Delanggo menjadi ruang belajar untuk mengenali serta memenuhi kebutuhan bahan dan perlengkapan praktik.
Di saat yang sama, support orang tua menunjukkan bahwa pendidikan keterampilan santri dapat tumbuh lebih kuat melalui sinergi madrasah dan keluarga.
Dari perjalanan sehari tersebut, santri tidak hanya membawa bahan dan perlengkapan baru untuk praktik. Mereka juga membawa pulang pengalaman, wawasan, dan pemahaman baru bahwa keterampilan yang dipelajari di madrasah memiliki keterkaitan dengan dunia nyata.
Inilah esensi rihlah edukatif: memperluas ruang belajar, memperkaya pengalaman, dan menguatkan keterampilan melalui kolaborasi.
Kegiatan ini diikuti oleh 19 santri:
Tinggalkan Komentar