Sleman – Berawal dari kegelisahan melihat sampah multilayer yang sulit dijual dan terus bertambah, dua santri Miftahunnajah, M. Dzaky Dzafran dan Nur Faiq, berhasil mengembangkan inovasi Reaktor Sampah Portabel Teknologi Tepat Guna (TTG). Temuan tersebut tidak hanya berhasil menembus ajang riset nasional dan memperoleh Hak Cipta Nomor EC002024243891 tetapi kini mulai memberikan manfaat nyata bagi lingkungan Pondok Pesantren Miftahunnajah melalui LPPS.
Kisah inovasi ini bermula dari persoalan sederhana yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Tidak semua sampah memiliki nilai ekonomi. Jika botol plastik, kardus, atau beberapa jenis sampah lainnya masih mudah dijual dan dimanfaatkan kembali, berbeda dengan sampah multilayer yang cenderung tidak diminati pengepul.
Sampah multilayer merupakan jenis sampah dari kemasan yang tersusun atas beberapa lapisan material. Di antaranya dapat ditemukan pada bungkus makanan ringan atau ciki, kemasan deterjen, serta berbagai kemasan produk lainnya yang memiliki lapisan mengilap di bagian dalam maupun warna-warni pada bagian luarnya.
Persoalannya, sampah jenis ini sulit dijual. Bahkan, sering kali tidak ada yang bersedia mengambilnya. Di sisi lain, jumlahnya terus bertambah seiring dengan penggunaan berbagai produk dalam kemasan sekali pakai.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan kegelisahan Dzaky dan Nur Faiq. Daripada hanya menjadi sampah yang menumpuk dan tidak bernilai, mereka mencoba mencari cara agar sampah multilayer dapat diolah dan memberikan manfaat.
Dari kegelisahan itulah muncul gagasan untuk melakukan penelitian. Keduanya kemudian mengembangkan penelitian berjudul “Reaktor Sampah Portabel Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam Recycling Multilayer untuk Energi Terbarukan.”
Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi proposal penelitian yang berhasil lolos dalam ajang MyRes 2022 dan masuk dalam Top 120 proposal bidang Matematika, Sains, dan Teknologi (MST).
M. Dzaky Dzafran dan Nur Faiq kemudian mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan juri nasional. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman penting bagi keduanya untuk menguji gagasan dan inovasi yang mereka kembangkan di tingkat nasional.
Perjalanan penelitian tidak berhenti setelah kompetisi. Gagasan tersebut terus dikembangkan hingga berhasil diwujudkan menjadi sebuah Reaktor Sampah Portabel Teknologi Tepat Guna. Atas karya tersebut, inovasi mereka kemudian memperoleh Hak Cipta.
Pencapaian tersebut menjadi semakin bermakna karena karya yang lahir dari riset santri itu kini tidak hanya menjadi dokumen penelitian atau karya yang tersimpan, tetapi mulai digunakan untuk kebutuhan nyata di lingkungan pesantren.
Pemanfaatan reaktor tersebut terus dikembangkan melalui berbagai uji coba. Pada Ahad, tanggal 16 Agustus 2026, dilakukan uji coba pengolahan sampah multilayer menggunakan reaktor yang dikembangkan dari penelitian tersebut.
Dalam uji coba itu, sampah multilayer diproses menggunakan reaktor dan menghasilkan dua botol bahan bakar/bensin.
Hasil tersebut menjadi salah satu tahap penting dalam membuktikan bahwa sampah multilayer yang selama ini sulit dimanfaatkan dan tidak memiliki nilai jual dapat diolah melalui teknologi yang dikembangkan para santri.
Lebih dari sekadar menghasilkan bahan bakar, keberadaan reaktor tersebut membuka perspektif baru dalam pengelolaan sampah di lingkungan pesantren. Sampah yang sebelumnya dipandang sebagai persoalan lingkungan dapat didorong menjadi bagian dari solusi melalui inovasi dan teknologi tepat guna.
Kini, reaktor hasil penelitian santri tersebut dimanfaatkan di LPPS, sehingga karya yang awalnya lahir dari kegelisahan dua orang santri dapat kembali memberikan manfaat bagi lingkungan pesantren.
Pemanfaatan inovasi reaktor sampah ini sekaligus semakin meneguhkan MA Miftahunnajah sebagai madrasah riset. Budaya riset di madrasah terus dikembangkan agar siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu membaca persoalan di lingkungan sekitar dan mengubahnya menjadi gagasan yang dapat diteliti dan dikembangkan.
Waka Kesiswaan MA Miftahunnajah, Ustaz Zulfiqar Satria Waliyudin, M.Pd., menjelaskan bahwa kreativitas dan inovasi siswa menjadi perhatian serius madrasah melalui program riset.
Menurutnya, terdapat perubahan mendasar dalam pelaksanaan program tersebut. Jika sebelumnya riset hanya menjadi bagian dari ekstrakurikuler dan diikuti oleh siswa yang memiliki minat khusus, kini riset telah menjadi bagian dari intrakurikuler dan wajib diikuti seluruh siswa melalui mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) Riset.
“Riset yang dulunya masuk dalam ekstrakurikuler dan hanya diikuti siswa yang berminat, sekarang menjadi kewajiban bagi semua siswa karena dimasukkan dalam intrakurikuler melalui mata pelajaran Mulok Riset,” jelasnya.
Melalui program tersebut, siswa didorong untuk memiliki kemampuan mengamati, menemukan persoalan, merumuskan pertanyaan, melakukan penelitian, mengembangkan inovasi, serta mengimplementasikan hasilnya.
Kini, kedua santri yang mengembangkan inovasi tersebut telah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. M. Dzaky Dzafran melanjutkan studi di Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) dengan konsentrasi Manajemen Bisnis. Sementara itu, Nur Faiq menempuh pendidikan pada Program Studi Teknologi Pangan (Food Technology Program), UIN Raden Mas Said Surakarta.
Perjalanan pendidikan keduanya menunjukkan bahwa pengalaman melakukan riset sejak di madrasah menjadi bagian dari proses pembentukan wawasan dan pengalaman yang terus mereka bawa ke jenjang pendidikan berikutnya.
Meskipun kini telah menjadi mahasiswa, karya keduanya masih memberikan manfaat di almamater. Reaktor sampah yang mereka kembangkan ketika menjadi santri terus dimanfaatkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren.
Bagi Miftahunnajah, hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Sebab, pendidikan yang diberikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi, tetapi juga meninggalkan karya yang dapat terus dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.
Kisah Dzaky dan Nur Faiq menjadi contoh bagaimana budaya riset dapat tumbuh dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Berawal dari kegelisahan terhadap sampah multilayer yang tidak laku, lahir sebuah gagasan. Gagasan itu berkembang menjadi penelitian, lolos dalam ajang riset nasional, memperoleh hak cipta, diwujudkan menjadi teknologi, dan kini dimanfaatkan untuk kepentingan pesantren.
Bagi Miftahunnajah, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keunggulan madrasah riset tidak berhenti pada prestasi penelitian, tetapi bagaimana ilmu pengetahuan dan kreativitas santri mampu melahirkan solusi bagi persoalan nyata.
Dari sampah yang dianggap tidak bernilai, lahir inovasi yang memberikan nilai. Dari kegelisahan santri, tumbuh karya yang terus memberikan manfaat bagi pesantren.
admin



Tinggalkan Komentar