
Penyerahan cendera mata ke pihak BMKG oleh Waka Kesiswaan
Sleman – Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah Unit MTs menggelar puncak rangkaian kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (Matamuda) 2026 melalui kegiatan outing class ke Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sleman serta Museum Gunung Merapi pada Kamis (16/7/2026). Kegiatan ini menjadi penutup Matamuda yang dirancang tidak hanya sebagai wisata edukasi, tetapi juga sebagai pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus sarat makna bagi seluruh santri baru kelas VII.
Sejak pagi, para santri tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Mereka mendapatkan kesempatan mengenal dunia kebencanaan, fenomena cuaca, mitigasi bencana, hingga kekayaan geologi Gunung Merapi secara langsung. Pembelajaran di luar kelas ini menghadirkan pengalaman nyata yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat belajar.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MTs Miftahunnajah sekaligus Ketua Penyelenggara Matamuda 2026, Ustadz Triyanto, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari filosofi pendidikan yang diterapkan di MTs Miftahunnajah.
“Pendidikan itu sejatinya bersifat rekreatif. Belajar bukan sesuatu yang membosankan, tetapi pengalaman yang menyenangkan. Setiap ilmu yang diperoleh adalah rezeki yang akan menjadikan hidup seseorang lebih bermakna,” ungkapnya.
Menurutnya, outing class pada awal tahun pelajaran juga membawa pesan penting kepada seluruh santri baru mengenai karakter kurikulum MTs Miftahunnajah. Meskipun berada di lingkungan pesantren, proses pembelajaran yang diterapkan sangat kaya akan pengalaman, kolaboratif, dan kontekstual.
Ia menjelaskan bahwa proses pendidikan di madrasah tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di dalam kelas. Kegiatan intrakurikuler menjadi pembelajaran inti sesuai mata pelajaran, kemudian diperkuat melalui kegiatan kokurikuler yang memberikan pengalaman belajar berbasis proyek dan penguatan kompetensi. Sementara itu, ekstrakurikuler menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan minat, bakat, kepemimpinan, kreativitas, serta berbagai keterampilan hidup.
Dengan demikian, para santri tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan secara akademik, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang utuh melalui praktik, eksplorasi lapangan, hingga pengembangan karakter.
Selama kunjungan di BMKG Sleman, para peserta memperoleh penjelasan mengenai proses pengamatan cuaca, perubahan iklim, serta pentingnya mitigasi bencana di wilayah yang berada di sekitar Gunung Merapi. Sementara di Museum Gunung Merapi, para santri diajak memahami sejarah erupsi Merapi, kondisi geografis, serta teknologi mitigasi kebencanaan yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Kegiatan tersebut disambut dengan penuh semangat oleh seluruh santri baru. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, serta mengikuti berbagai sesi edukasi yang disampaikan oleh para narasumber.
Melalui pengalaman belajar sejak hari pertama memasuki madrasah, MTs Miftahunnajah ingin menanamkan kesan bahwa belajar merupakan aktivitas yang menyenangkan, penuh eksplorasi, dan dekat dengan kehidupan nyata.
Ustadz Triyanto berharap Matamuda menjadi langkah awal yang baik bagi para santri untuk mengenal seluruh lingkungan pendidikan yang akan mereka jalani selama tiga tahun ke depan.
“Harapannya, di awal masa perkenalan ini anak-anak bisa mengenal semuanya; mengenal guru-gurunya, mengenal pesantrennya, mengenal ilmu, mengenal teman-temannya, mengenal lingkungan sosial, dan pada akhirnya mengenal pembelajaran yang benar-benar bermakna.”
Semangat tersebut menjadi cerminan komitmen MTs Miftahunnajah dalam menghadirkan pendidikan pesantren yang tidak hanya kuat dalam pembinaan akhlak dan keilmuan, tetapi juga kaya pengalaman, relevan dengan perkembangan zaman, serta mampu membentuk generasi yang berkarakter, berwawasan luas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
admin_

Antusiasme peserta outing di Museum Gunung Merapi

sesi foto bersama peserta outing bersama pihak BMKG
Tinggalkan Komentar