Sleman, 30 Agustus 2026 — Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai pertemuan keluarga besar Pondok Pesantren Miftahunnajah dengan Syaikh Dr. Ahmad Abdul Athy, tamu asal Mesir yang berkunjung ke MA Miftahunnajah, Ahad (30/8/2026). Kehadiran beliau disambut oleh Waka Diniyyah, Ustaz Khoirudin Umar, bersama 184 santri jenjang Aliyah di Masjid Jami’ Miftahunnajah.
Kunjungan tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus membuka peluang penguatan pembelajaran Bahasa Arab di lingkungan MA Miftahunnajah. Kehadiran tamu dari Mesir juga memberikan pengalaman dan wawasan tersendiri bagi para santri, khususnya dalam melihat Bahasa Arab tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai bagian penting dari bekal keilmuan seorang santri.
Dalam kunjungannya, Syaikh Dr. Ahmad Abdul Athy menyampaikan bahwa kehadirannya di Miftahunnajah memiliki dua tujuan utama. Pertama, menjalin silaturahmi dengan keluarga besar MA Miftahunnajah. Kedua, menawarkan peluang pembelajaran Bahasa Arab, sekaligus memberikan motivasi kepada para santri mengenai pentingnya mempelajari dan menguasai Bahasa Arab.
Bagi santri, kesempatan bertemu langsung dengan seorang tamu dari Mesir menjadi momentum untuk melihat Bahasa Arab dari perspektif yang lebih luas. Bahasa Arab bukan sekadar materi pembelajaran di kelas, tetapi merupakan salah satu pintu untuk memahami sumber-sumber utama ajaran Islam serta khazanah keilmuan yang sangat luas.
Al-Qur’an sendiri diturunkan dalam Bahasa Arab. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”
(QS. Yusuf: 2)
Karena itu, kemampuan Bahasa Arab menjadi bekal penting bagi santri dalam memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an, hadis, literatur keislaman, serta membuka akses terhadap dunia keilmuan yang lebih luas.
Pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kunjungan dan silaturahmi, tetapi dapat menjadi jalan bagi terbukanya peluang kerja sama dan penguatan pembelajaran Bahasa Arab di Miftahunnajah.
Menyambut dan memuliakan tamu merupakan bagian dari akhlak mulia yang mendapatkan perhatian besar dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa memuliakan tamu bukan sekadar etika sosial, tetapi merupakan bagian dari kesempurnaan iman seorang Muslim.
Keteladanan dalam memuliakan tamu juga ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ketika kedatangan para tamu, beliau segera menyambut dan menyiapkan hidangan untuk mereka. Kisah tersebut diabadikan Allah SWT dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 24–27.
Pertemuan dengan tamu juga dapat menjadi sarana bertemunya berbagai bentuk kebaikan: silaturahmi, ilmu, nasihat, pengalaman, dan peluang untuk membangun hubungan yang lebih luas.
Tinggalkan Komentar