Info Sekolah
Jumat, 17 Jul 2026
  • | Selamat Datang di Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah | Yayasan Pelita Umat Yogyakarta |
  • | Selamat Datang di Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah | Yayasan Pelita Umat Yogyakarta |
16 Juli 2026

Membangun Madrasah Tanpa Bullying, MTs Miftahunnajah Hadirkan Super Trainer Arif Jatmiko di MATAMUDA 2026

Kam, 16 Juli 2026 Dibaca 9x Berita Viral / Kesiswaan / Pendidikan

Sleman – Komitmen MTs Miftahunnajah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan bebas dari perundungan (bullying) diwujudkan melalui kegiatan istimewa dalam rangkaian MATAMUDA Sleman – Pencegahan perundungan (bullying) tidak cukup dilakukan melalui larangan atau slogan semata. Dibutuhkan pembinaan karakter yang menyentuh cara berpikir, cara bersikap, dan cara santri memperlakukan sesamanya. Atas dasar itulah MTs Miftahunnajah Sleman menghadirkan Super Trainer Arif Jatmiko dalam rangkaian MATAMUDA (Masa Ta’aruf Murid Madrasah) Tahun Pelajaran 2026/2027, Selasa (14/7/2026) pukul 09.00 WIB.

Kegiatan yang menjadi salah satu sesi unggulan MATAMUDA ini mengangkat tema “Who Am I?”, mengajak seluruh santri baru mengenali konsep diri sebagai langkah awal membangun kedewasaan dan menciptakan lingkungan madrasah yang aman, nyaman, serta bebas dari bullying.

Bagi MTs Miftahunnajah, orientasi santri baru bukan sekadar mengenalkan ruang kelas, tata tertib, atau budaya madrasah. Lebih dari itu, MATAMUDA menjadi momentum awal membentuk karakter santri agar mampu hidup berdampingan dengan siapa pun, menghargai perbedaan, dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Masa Remaja adalah Awal Menjadi Pribadi Dewasa

Dalam sesi penguatan karakter, para santri diajak memahami bahwa memasuki jenjang madrasah sekaligus menjadi santri berarti memasuki fase akil baligh, yaitu masa ketika seseorang mulai dituntut memiliki tanggung jawab atas setiap sikap dan tindakannya.

Melalui materi layanan orientasi, santri dikenalkan pada karakter dasar seorang muslim yang dewasa, yaitu mampu mandiri, bertanggung jawab, mengendalikan emosi, serta menghargai setiap perbedaan.

Perasaan rindu kepada orang tua, kesulitan beradaptasi, atau munculnya konflik kecil dengan teman merupakan hal yang wajar dialami santri baru. Namun, kedewasaan ditunjukkan dari cara menyelesaikan persoalan tersebut. Santri diajak untuk menenangkan diri melalui ibadah, berdiskusi dengan pembimbing kamar, maupun berkonsultasi kepada guru, bukan melampiaskan emosi kepada teman.

Selain itu, mereka juga diingatkan bahwa kehidupan di pesantren mempertemukan santri dari berbagai daerah, budaya, bahasa, dan kebiasaan. Perbedaan tersebut bukan untuk dipersoalkan, melainkan menjadi sarana belajar saling memahami dan saling menghormati.

Bercanda Ada Adabnya, Jangan Sampai Berubah Menjadi Bullying

Salah satu materi yang mendapat perhatian khusus adalah mengenai adab dalam bercanda.

Arif Jatmiko menjelaskan bahwa suasana akrab memang penting dibangun di lingkungan pesantren. Namun, candaan tidak boleh melukai perasaan orang lain.

Santri diajak memahami batas yang sangat sederhana namun sering diabaikan.

“Kalau yang diajak bercanda tidak ikut tertawa, merasa sedih, malu, atau tertekan, maka itu bukan lagi candaan. Itu sudah masuk kategori bullying.”

Karena itu, para santri diingatkan untuk tidak memberikan julukan yang merendahkan, tidak melakukan body shaming, tidak mengejek logat, daerah asal, kondisi ekonomi, maupun kekurangan fisik temannya.

Materi juga menanamkan pentingnya menghargai kata “tidak”. Ketika seorang teman meminta agar candaan dihentikan, maka saat itu pula candaan harus diakhiri tanpa menyebutnya “baper”, “cengeng”, atau sebutan lain yang justru memperburuk keadaan.

Dalam kehidupan pesantren, penghormatan terhadap hak milik orang lain juga menjadi bagian dari pendidikan karakter. Santri diingatkan agar tidak menggunakan sandal, sarung, pakaian, maupun barang milik teman tanpa izin, karena kebiasaan tersebut dapat memicu konflik dan mengganggu kenyamanan bersama.

Santri Hebat Bukan Penonton, tetapi Penolong

Materi orientasi juga mengajak para santri memiliki keberanian untuk menjadi bagian dari solusi ketika melihat temannya mengalami perundungan.

Alih-alih hanya menonton atau ikut menertawakan, santri didorong untuk membantu teman yang sedang menjadi korban, misalnya dengan mengajaknya keluar dari situasi yang tidak nyaman, menegur teman yang bertindak berlebihan secara santun, atau segera melaporkan kejadian kepada pembimbing kamar, wali kelas, guru BK, maupun asatidz.

Dalam penyampaian materi ditegaskan bahwa melaporkan tindakan bullying bukan berarti mengadu atau menjadi “cepu”. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk kepedulian untuk melindungi sesama dan mencegah terjadinya kemungkaran di lingkungan pesantren.

Nilai inilah yang ingin ditanamkan sejak hari pertama agar seluruh santri memiliki keberanian membela kebenaran sekaligus menjaga kesehatan mental teman-temannya.

Ustaz Triyanto: Madrasah Harus Menjadi Rumah yang Aman bagi Semua

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Ustaz Triyanto, selaku penanggung jawab MATAMUDA, menegaskan bahwa pendidikan karakter menjadi ruh utama kegiatan orientasi santri baru.

Menurutnya, seluruh rangkaian MATAMUDA dirancang untuk membangun budaya madrasah yang menghargai keberagaman dan menolak segala bentuk kekerasan maupun perundungan.

“Kami ingin setiap santri merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar MTs Miftahunnajah. Tidak boleh ada yang dikucilkan karena suku, bahasa, warna kulit, kondisi ekonomi, ataupun karakter pribadinya. Di sini kami membangun budaya saling menghormati, menyayangi yang lebih muda, menghormati yang lebih tua, dan saling menjaga sebagai sesama saudara,” ujarnya.

Ia berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada kegiatan MATAMUDA, tetapi menjadi budaya yang terus hidup dalam keseharian santri selama belajar di madrasah dan pesantren.

Belajar Toleransi Melalui Outing di Sleman Utara

Rangkaian MATAMUDA 2026 yang berlangsung pada 12–16 Juli 2026 akan ditutup dengan kegiatan outing ke sejumlah destinasi edukatif di kawasan Sleman Utara, di antaranya Museum Gunung Merapi dan lokasi edukasi di sekitarnya.

Melalui kegiatan tersebut, santri diajak belajar secara langsung tentang kehidupan masyarakat yang majemuk. Mereka berinteraksi dengan berbagai karakter, profesi, dan latar belakang sosial sebagai bagian dari pembelajaran bahwa kehidupan selalu dipenuhi keberagaman yang harus dihormati.

Bagi MTs Miftahunnajah, pengalaman belajar di luar kelas ini menjadi pelengkap pendidikan karakter yang telah dimulai sejak hari pertama MATAMUDA.

Sebagaimana pesan yang terus digaungkan selama kegiatan berlangsung, santri yang hebat bukanlah mereka yang mampu mengintimidasi teman, melainkan mereka yang mampu menjaga akhlaknya, menghormati perbedaan, serta menjadi pribadi yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Dengan semangat itulah, MTs Miftahunnajah terus membangun budaya madrasah tanpa bullying, tempat setiap santri dapat tumbuh, belajar, dan berkembang dalam suasana yang aman, nyaman, dan penuh persaudaraan.
admin_

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar