Sleman — Sebanyak 184 santri dan asatiz MA Miftahunnajah mendapatkan kesempatan mengikuti kajian bersama Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam rangkaian kegiatan bertema “Merawat Iman di Tengah Perubahan Zaman”, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para santri. Ponpes Miftahunnajah mendapat undangan khusus dari pengelola Masjid Ulil Albab UII untuk menghadirkan para santri dan asatiz dalam kegiatan tabligh akbar tersebut.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan salat Jumat dengan Ustaz Abdul Somad sebagai khatib. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan tabligh akbar yang menghadirkan Ustaz Abdul Somad sebagai penceramah. Dalam kesempatan tersebut, UAS hadir bersama dua dai lainnya, yakni Ustaz Salim A. Fillah dan Ustaz Luqmanul Hakim.
Kehadiran para santri Miftahunnajah disambut antusias. Sejak mengikuti rangkaian kegiatan, para santri tampak menikmati suasana kajian dan menyimak materi yang disampaikan dengan penuh perhatian.
Bagi sebagian santri, kesempatan tersebut bukan sekadar mengikuti kajian, tetapi juga menjadi pengalaman melihat secara langsung sosok dai yang selama ini mereka kenal melalui berbagai media.
Salah seorang santri bahkan mengungkapkan kepuasannya mengikuti kajian sekaligus mengaku mendapatkan motivasi baru. Ia berharap suatu saat dapat mengikuti jejak Ustaz Abdul Somad menjadi dai yang mampu menyampaikan dakwah dan menjangkau masyarakat luas di berbagai penjuru negeri.
Dalam kajiannya, Ustaz Abdul Somad mengajak para jamaah memahami bahwa perubahan zaman tidak serta-merta membuat kualitas iman seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk.
Menurutnya, iman pada zaman dahulu dan sekarang pada dasarnya sama. Yang mengalami perubahan adalah cara manusia mengekspresikan dan menghadapi kehidupan di zamannya.
Ia kemudian memberikan gambaran sederhana tentang cinta. Perasaan cinta manusia pada zaman dahulu dan sekarang pada hakikatnya tetap sama, meskipun cara mengekspresikannya dapat berbeda karena perubahan zaman.
Pesan tersebut kemudian diarahkan pada cara pandang seorang muslim dalam menghadapi kehidupan modern.
UAS mengingatkan agar seseorang tidak berandai-andai bahwa jika hidup pada zaman Nabi Muhammad SAW, dirinya pasti akan memiliki iman yang kuat.
“Kalau saya hidup di zaman Nabi, pasti iman kita bagus. Belum tentu. Jangan-jangan kita justru menjadi pengikut Abu Jahal,” menjadi gambaran yang disampaikan untuk mengajak jamaah melakukan introspeksi.
Dengan demikian, tantangan iman tidak semata-mata ditentukan oleh zaman. Setiap generasi memiliki ujian dan tantangannya masing-masing.
Karena itu, yang diperlukan bukanlah menyalahkan zaman, melainkan memahami bagaimana ajaran Islam yang sempurna memberikan tuntunan untuk menjalani kehidupan dalam kondisi apa pun.
Dalam konteks menjaga iman di tengah perubahan zaman, Ustaz Abdul Somad mengajak para jamaah memperhatikan sejumlah hal yang dapat memengaruhi kualitas keimanan dan kehidupan seseorang.
Pertama, lingkungan.
Lingkungan menjadi salah satu faktor penting yang membentuk seseorang. Orang tua, keluarga, lingkungan pergaulan, hingga apa yang dibaca dan dikonsumsi setiap hari dapat memberikan pengaruh terhadap pola pikir dan kehidupan seseorang.
Karena itu, memilih lingkungan dan asupan bacaan menjadi bagian dari ikhtiar menjaga diri.
Kedua, ibadah.
Ibadah menjadi penjaga penting dalam kehidupan seorang muslim. Salah satu yang ditekankan adalah menjaga salat, termasuk perhatian terhadap salat Subuh.
Di tengah berbagai kesibukan dan perubahan pola hidup, ibadah menjadi fondasi agar seorang muslim tetap memiliki arah dan keterikatan kepada Allah SWT.
Ketiga, cita-cita dan target kehidupan.
Ustaz Abdul Somad juga mengingatkan pentingnya memiliki cita-cita yang jelas. Seorang muslim perlu mengetahui arah perjalanan hidupnya, memiliki target, serta memahami ke mana tujuan akhirnya.
Dengan cita-cita yang jelas, seseorang tidak mudah terbawa arus perubahan zaman. Ia dapat menentukan langkah berdasarkan nilai dan tujuan yang diyakininya.
Bagi santri dan asatiz MA Miftahunnajah, kegiatan ini menjadi salah satu ruang belajar yang melengkapi proses pendidikan di madrasah dan pesantren.
Belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Pertemuan langsung dengan ulama dan dai, menyimak kajian, serta merasakan atmosfer majelis ilmu juga menjadi bagian dari pengalaman pendidikan yang berharga bagi santri.
Terlebih, tema yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan generasi muda: bagaimana tetap menjaga iman ketika lingkungan, teknologi, informasi, gaya hidup, dan berbagai aspek kehidupan terus mengalami perubahan.
Melalui kesempatan tersebut, para santri tidak hanya diajak mendengarkan ceramah, tetapi juga melakukan refleksi bahwa setiap zaman memiliki tantangan iman masing-masing.
Pesan yang dibawa pulang pun sederhana namun mendasar: bukan zamannya yang harus disalahkan, melainkan diri yang perlu terus dibina. Lingkungan perlu dijaga, ibadah perlu diperkuat, dan cita-cita harus diarahkan dengan jelas.
Dari Masjid Ulil Albab UII Yogyakarta, 184 santri dan asatiz MA Miftahunnajah mendapatkan satu lagi pengalaman belajar: merawat iman bukan dengan melarikan diri dari perubahan zaman, tetapi dengan membawa nilai-nilai Islam untuk tetap menjadi pegangan dalam menjalaninya.



Tinggalkan Komentar