
SLEMAN, 22 Oktober 2026 — Peringatan Hari Santri Nasional di MTs Miftahunnajah menjadi momentum untuk menguatkan karakter santri agar tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga berprestasi, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Pesan tersebut disampaikan Ustaz Dimastra Rijaluddin Robbani selaku Pembina Upacara Hari Santri Nasional yang diselenggarakan pada Kamis (22/10/2026) di halaman barat MTs Miftahunnajah Putri.
Upacara diikuti seluruh santri dan civitas MTs Miftahunnajah. Dalam amanatnya, Ustaz Dimastra mengajak para santri menjadikan Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk meneladani perjuangan para ulama, kiai, dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi penerus bangsa.
Mengangkat tema “Santri Qur’ani, Berprestasi, dan Siap Menghadapi Masa Depan”, amanat tersebut menekankan pentingnya membangun pribadi santri yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, terus mengembangkan potensi diri, serta mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Ada tiga pesan penting yang ditekankan dalam amanat tersebut.
Pertama, menjadi santri yang Qur’ani dan berakhlak mulia. Santri tidak cukup hanya mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga harus menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan dengan Al-Qur’an semestinya tercermin dalam kejujuran, tutur kata, sikap terhadap guru, serta hubungan dengan sesama. Sebab, keberhasilan menghafal Al-Qur’an perlu diiringi dengan kesungguhan dalam memperbaiki akhlak.
Kedua, bersungguh-sungguh meraih prestasi dan mengembangkan potensi diri. Santri harus memiliki semangat belajar yang tinggi, baik dalam ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Kemampuan bahasa Arab, bahasa Inggris, teknologi, dan keterampilan lainnya perlu terus ditingkatkan sebagai bekal menghadapi masa depan. Prestasi tidak hanya diukur dari piala dan medali, tetapi juga dari kemajuan hafalan, peningkatan pemahaman pelajaran, kedisiplinan, dan kesungguhan memperbaiki diri. Santri tidak boleh merasa rendah diri karena belajar di pesantren, sebab pesantren justru harus menjadi tempat lahirnya generasi yang kuat agamanya, luas ilmunya, dan tinggi prestasinya.
Ketiga, siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip. Perkembangan internet, media sosial, dan kecerdasan buatan menuntut santri untuk terus belajar dan beradaptasi. Teknologi harus dimanfaatkan untuk menambah ilmu dan memperluas wawasan, bukan sekadar menghabiskan waktu. Santri juga perlu bersikap kritis terhadap informasi, tidak mudah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, serta tetap menjaga adab dalam berinteraksi. Kesiapan menghadapi masa depan juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga keharmonisan dengan sesama.
Ustaz Dimastra juga mengingatkan bahwa nilai-nilai tersebut harus diwujudkan melalui kebiasaan sederhana di lingkungan pesantren, mulai dari bangun tepat waktu, bersungguh-sungguh menghafal Al-Qur’an, jujur ketika ujian, menaati aturan, menghormati guru, menjaga kebersihan, hingga membantu teman yang membutuhkan.
Santri juga diajak untuk tidak hanya berharap orang lain berubah menjadi lebih baik, tetapi memulai perubahan dari diri sendiri. Keberhasilan pesantren tidak semata-mata diukur dari banyaknya prestasi yang diraih, melainkan juga dari kualitas akhlak dan kuatnya persaudaraan di antara para santri.
Melalui amanat Hari Santri Nasional ini, MTs Miftahunnajah berharap seluruh santri semakin termotivasi untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, meningkatkan prestasi, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan dengan bekal iman, ilmu, serta akhlak mulia.
Sebagaimana pesan yang ditekankan dalam amanat tersebut, santri hendaknya tidak hanya bangga menjadi bagian dari Miftahunnajah, tetapi juga berusaha menjadi santri yang membanggakan pesantren melalui perilaku, prestasi, dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Tinggalkan Komentar