Info Sekolah
Sabtu, 21 Mar 2026
  • | Selamat Datang di Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah | Yayasan Pelita Umat Yogyakarta |
  • | Selamat Datang di Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah | Yayasan Pelita Umat Yogyakarta |
27 Januari 2026

Menegur Tanpa Melukai, Mendidik Tanpa Menghakimi – Pembinaan Rutin Pegawai Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah

Sel, 27 Januari 2026 Dibaca 110x Dakwah / madrasah / Pendidikan

Jum’at, 23 Januari 2026 – Bersama Ust. dr. Heru Mukti Pamungkas

Pembinaan rutin pegawai Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah kembali dilaksanakan dengan mengangkat tema “Menegur Tanpa Melukai, Mendidik Tanpa Menghakimi: Disiplin Positif dalam Konteks Pesantren.” Pembinaan ini diikuti oleh guru, karyawan, serta musrif dan musyrifah PAUD–MTs–MA sebagai bagian dari ikhtiar bersama memperbaiki kualitas pendidikan dan pola pengasuhan santri.

Pada kesempatan tersebut, pembinaan diisi oleh Ustadz dr. Heru Mukti Pamungkas, PPDS Psikiatri FK KMK UGM/RSUP Dr. Sardjito, dengan tema “Menegur Tanpa Melukai, Mendidik Tanpa Menghakimi: Disiplin Positif dalam Konteks Pesantren.”

Dalam pembinaannya, Ust. dr. Heru menyampaikan bahwa teguran adalah bagian yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan, khususnya di pesantren. Setiap pendidik pasti berhadapan dengan santri yang melakukan kesalahan. Namun, persoalan utamanya bukan pada perlu atau tidaknya menegur, melainkan bagaimana cara menegur agar benar-benar mendidik, bukan melukai.

Beliau menjelaskan bahwa banyak teguran yang secara niat ingin memperbaiki, tetapi justru meninggalkan luka batin, meruntuhkan harga diri, dan menanamkan rasa takut dalam diri santri. Teguran semacam ini sering kali menghasilkan kepatuhan semu, bukan kesadaran.

Mayoritas santri berada pada fase usia remaja (12–18 tahun), fase yang ditandai dengan emosi yang masih labil, sensitivitas tinggi terhadap kritik, serta kebutuhan besar akan pengakuan. Pada fase ini, cara guru berbicara dan bersikap sering kali lebih membekas daripada isi nasihat itu sendiri.

Ust. dr. Heru menekankan beberapa prinsip penting dalam menegur tanpa melukai. Di antaranya adalah fokus pada perilaku, bukan menyerang pribadi, menghindari label negatif, serta tidak menegur santri di hadapan umum. Teguran hendaknya disampaikan dengan nada tenang namun tetap tegas, karena ketegasan tidak harus dibungkus dengan kemarahan.

Selain itu, beliau juga mengingatkan bahaya mendidik dengan cara menghakimi. Memberi cap seperti nakal, bandel, atau malas justru dapat menjadi identitas yang melekat pada diri santri. Padahal, setiap anak berhak melakukan kesalahan dan belajar darinya. Tugas pendidik adalah mendampingi proses perubahan, bukan sekadar menghukum.

Teladan Rasulullah ﷺ menjadi rujukan utama dalam pembinaan ini. Kesalahan tidak pernah dibalas dengan mempermalukan, tetapi diluruskan dengan hikmah dan kasih sayang. Pendekatan inilah yang membuat nasihat masuk ke hati dan membentuk akhlak dalam jangka panjang.

Pembinaan ini mengajak seluruh pendidik Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah untuk terus memperbaiki cara mendidik, agar disiplin yang diterapkan bukan lahir dari rasa takut, tetapi tumbuh dari kesadaran dan tanggung jawab.

“Guru pondok yang baik bukan yang paling ditakuti, tetapi yang paling membekas dalam akhlak dan doa santrinya.”

Melalui pembinaan rutin ini, diharapkan seluruh pegawai dan pendidik semakin matang secara keilmuan dan kejiwaan, sehingga mampu menghadirkan pendidikan pesantren yang tegas, manusiawi, dan penuh keberkahan.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar