Sleman — Mengelola lembaga pendidikan dan pesantren bukan semata tentang program, target, administrasi, maupun capaian kelembagaan. Di balik setiap ikhtiar yang dijalankan, terdapat satu hal yang menjadi pondasi utama: niat.
Pesan penting inilah yang mengemuka dalam agenda Rapat dan Konsolidasi BPH–PH MTs–MA Miftahunnajah, yang digelar secara rutin setiap bulan sebagai ruang pertemuan antara Badan Pengurus Harian (BPH) Yayasan Pelita Umat Yogyakarta dengan Pengurus Harian (PH) unit MTs dan MA Miftahunnajah.
Kegiatan berlangsung di ruang meeting Unit MTs Miftahunnajah, Rabu (16/9/2026), pukul 08.30–12.00 WIB.
Agenda rutin ini tidak hanya menjadi sarana kontrol dan evaluasi pengelolaan unit pendidikan, tetapi juga menjadi momentum pembinaan, penyamaan visi, konsolidasi, dan penguatan ruh perjuangan seluruh unsur pengelola lembaga.
Dalam sesi pembinaan, Pembina Yayasan, Ustaz Trilasanto, mengangkat kembali pelajaran dari kisah Ummu Qais yang masyhur dalam pembahasan hadis tentang niat.
Kisah tersebut menjadi salah satu konteks yang menjelaskan hadis pertama dalam Arbain Nawawi, hadis yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Artinya:
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya semua amal tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Maka, barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa ukuran sebuah amal tidak hanya terletak pada bentuk lahiriahnya, tetapi juga pada tujuan yang melatarbelakanginya.
Kisah Ummu Qais memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah perjalanan hijrah yang secara lahir tampak sama dapat memiliki nilai yang berbeda karena perbedaan niat di baliknya.
Dalam konteks pengelolaan Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah, Ustaz Trilasanto menekankan bahwa meluruskan niat harus senantiasa menjadi pondasi utama dalam setiap amanah kelembagaan.
Mengelola madrasah, mendidik santri, menyusun program, menghadiri rapat, menyelesaikan administrasi, membangun sistem, hingga menjalankan tugas-tugas yang mungkin terlihat sederhana, semuanya dapat bernilai ibadah ketika dilandasi niat yang benar.
Sebaliknya, pekerjaan yang secara lahir tampak besar sekalipun dapat kehilangan nilainya apabila orientasi dan niatnya tidak diarahkan kepada Allah SWT.
“Betapa perbuatan kecil bernilai besar karena niat, juga betapa perbuatan besar namun bernilai kecil, juga karena niat.”
Pesan tersebut menjadi refleksi bersama bagi para pengurus agar kesibukan dalam mengelola lembaga tidak membuat tujuan utama perjuangan menjadi kabur.
Sebab, semakin besar amanah yang diemban, semakin penting pula untuk terus melakukan muhasabah terhadap niat.
Rapat BPH–PH MTs–MA menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai unsur pengelola yayasan dan unit pendidikan. Melalui forum ini, perkembangan unit dapat dikontrol, berbagai persoalan dapat dikomunikasikan, serta langkah-langkah pengembangan lembaga dapat diselaraskan.
Hadir dalam agenda tersebut Pembina Yayasan Ustaz Trilasanto dan Bu Didik Purwodarsono, Ketua BPH yang sekaligus Ketua Yayasan dan Direktur Pesantren Ustaz Muhamad Mujari, Lc., M.Pd., serta jajaran pengurus: Ustaz Dimastra Rosikhul Fikri, Ustaz Muslikh Bahaddur, Ustaz Abdurrahman Abu Hanif, Ustaz Kaswanto, dan Ustazah Zulfa.
Dari Unit MTs Miftahunnajah hadir Ustaz Waludin, S.T., Gr. selaku Kepala Madrasah, bersama Ummi Fifi, Ustazah Zulfi, Ustazah Tri Winarti, Ustaz Triyanto, Ustaz Dimastra Rijaluddin Robbani, dan Ustaz Andhika.
Sementara dari Unit MA Miftahunnajah hadir Kepala Madrasah Ustaz Budi Setiyo Prabowo, M.Pd., bersama Ustaz Khoirudin Umar, Ustaz Zulfiqar Satria, Ustaz Brigade Izzudin Al Qassam, Ustazah Lia Citra Ambarwati, Ustazah Mutia Kintan, dan Ustazah Tia Fathunnikmah.
Pertemuan berlangsung dalam suasana konsolidatif, dengan semangat menyatukan langkah antara yayasan dan unit pendidikan dalam menjalankan amanah pendidikan dan kepesantrenan.
Pada akhirnya, seluruh ikhtiar kelembagaan kembali kepada satu kesadaran: manusia merancang dan berusaha, sementara pertolongan dan keberhasilan hakikatnya berada dalam kehendak Allah SWT.
Karena itu, Ustaz Trilasanto berharap lurusnya niat senantiasa menjadi ruh dalam setiap aktivitas pengelolaan lembaga.
Dengan niat yang terus dijaga, setiap tugas diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas pekerjaan, tetapi menjadi bagian dari amal dan perjuangan bersama.
“Dengan lurusnya niat ini, semoga pesantren kita senantiasa ditolong Allah SWT.”
Pesan tersebut menjadi penutup sekaligus penguat dalam konsolidasi BPH–PH MTs–MA Miftahunnajah: menyatukan langkah, menguatkan amanah, dan terus meluruskan niat dalam setiap ikhtiar.



Tinggalkan Komentar