GUNUNGKIDUL, 30 Agustus 2026 — Di tengah kemarau yang masih melanda sejumlah wilayah Kabupaten Gunungkidul, kepedulian terhadap masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih terus digerakkan. Pesantren Miftahunnajah Sleman bersama para donatur dan jamaah binaan menyalurkan bantuan air bersih bagi masyarakat, masjid, mushola, serta lembaga pendidikan yang terdampak kekeringan di wilayah Gunungkidul.
Bantuan sosial tersebut menyasar 64 titik penerima manfaat yang tersebar di Kapanewon Panggang, Purwosari, Saptosari, dan Paliyan. Penerima bantuan terdiri atas masjid, mushola, TK, PAUD, SD, MI, SMP Muhammadiyah Panggang, serta masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih selama musim kemarau.
Kegiatan dipusatkan di Masjid Ar-Rahman, Padukuhan Waru, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Gunungkidul. Selain penyaluran air bersih, kegiatan juga menjadi momentum silaturahmi dan pengajian yang mempertemukan para donatur, penggerak dakwah, aktivis TPA, pengurus Badko TPA, tokoh masyarakat, serta warga penerima manfaat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pengasuh Pondok Pesantren Miftahunnajah Yogyakarta, jamaah binaan Roudlatul Jannah Pandhean Yogyakarta, jamaah binaan Al Hidayah Demangan Yogyakarta, para aktivis TPA, pengurus Badko TPA Panggang, dukuh, RW, takmir masjid dari sejumlah titik penerima bantuan, serta jamaah Padukuhan Waru, Girisekar, Panggang.
Sejumlah tokoh yang turut hadir antara lain Bapak Sugiharto, Rayon Taman Pendidikan Al-Qur’an Kabupaten Panggang; Bapak Pardiman, Ketua Takmir Masjid Ar-Rahman Girisekar; serta Ust. Ruswanto dari Badan Koordinasi TKA-TPA Kabupaten Gunungkidul.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan sambutan dari Bapak Dukuh Waru, Sekargiri, Panggang selaku tuan rumah. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Pembina Pesantren Miftahunnajah Sleman, Ust. Trilasanto, S.T., yang mewakili pihak pesantren sekaligus jamaah dan para donatur yang turut mengambil bagian dalam aksi sosial tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, bantuan air bersih tidak sekadar dipandang sebagai pemberian material, tetapi menjadi wujud kepedulian dan upaya menghadirkan kemanfaatan secara langsung bagi masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh Ust. Siswo Bowo Laksono. Tausiyah menjadi ruang untuk menguatkan kembali semangat kepedulian, kebersamaan, ukhuwah, dan gotong royong dalam menghadapi persoalan sosial yang dirasakan masyarakat.
Pesan yang mengemuka adalah bahwa kepedulian tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ketika kebutuhan masyarakat begitu nyata, menghadirkan air bersih untuk membantu kehidupan sehari-hari merupakan bentuk nyata dari kepedulian dan amal sosial yang langsung dirasakan manfaatnya.
Salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut adalah prosesi simbolis penyerahan bantuan air bersih berupa air tangki. Prosesi ini menjadi penanda dimulainya penyaluran bantuan kepada masyarakat dan berbagai lembaga yang menjadi sasaran manfaat.
Sebanyak 64 titik mendapatkan dukungan air bersih. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mendukung keberlangsungan aktivitas di masjid, mushola, dan lembaga pendidikan yang berada di wilayah terdampak kekeringan.
Bagi masyarakat di wilayah yang mengalami krisis air, satu tangki air bukan sekadar bantuan. Air menjadi kebutuhan mendasar untuk kehidupan sehari-hari, kebersihan, aktivitas ibadah, hingga kegiatan belajar mengajar.
Karena itu, keterlibatan pesantren, para donatur, jamaah, aktivis TPA, takmir masjid, dan berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk meringankan beban warga.
Kegiatan sosial ini sekaligus menegaskan peran pesantren sebagai bagian dari masyarakat. Pendidikan dan dakwah tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran dan pengajian, tetapi juga melalui kepedulian terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Sinergi antara Pesantren Miftahunnajah, para donatur, jamaah binaan, lembaga pendidikan Al-Qur’an, takmir masjid, tokoh masyarakat, dan warga menjadi kekuatan penting dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Di tengah kemarau yang masih berdampak pada sejumlah wilayah Gunungkidul, gerakan berbagi air bersih ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan. Semangat kepedulian dan gotong royong diharapkan terus tumbuh sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya.
Dari masjid di Padukuhan Waru, air disalurkan untuk kehidupan. Dari kepedulian para donatur, tumbuh harapan. Dan dari sinergi banyak pihak, ukhuwah diwujudkan menjadi kemanfaatan nyata bagi sesama.
Acara kemudian ditutup dengan doa dan penutup, dengan harapan bantuan yang disalurkan menjadi keberkahan bagi para donatur, pesantren, para penggerak kegiatan, serta seluruh masyarakat penerima manfaat.

simbolis penyerahan tangki air bersih dari Pesantren dan Donatur

Simbolis penyerahan Donasi Air Bersih oleh Ustadz Siswo Bowo Laksono

Sambutan Perwakilian Pondok oleh Ust. Trilasanto

Forum serahterima donasi dan pengajian

Simbolis Penyerahan Donasi oleh Direktur Pesantren, Ustaz Muhamad Mujari

Hadir Ustadzah Mas’udah Nasriyati dan Istri ustadz Siswo Bowo Laksono


Tinggalkan Komentar