Sleman, 28 Agustus 2026 — Peresmian Masjid Pesantren Miftahunnajah di Dusun Ngawen, Kalurahan Trihanggo, Sleman, Jumat (28/8/2026), tidak hanya menjadi momentum penting bagi pengelola pesantren dan masyarakat. Bagi para santri, berdirinya masjid baru menghadirkan kebahagiaan tersendiri karena kini mereka memiliki tempat ibadah yang semakin dekat dan nyaman untuk menjalankan aktivitas keagamaan sehari-hari.
Salah satunya dirasakan Abdullah Hanif Rabbany, santri kelas 7 MTs Miftahunnajah. Ia mengaku bahagia dengan hadirnya masjid baru di lingkungan pesantren.
“Bahagia,” ujar Hanif ketika ditanya mengenai kesannya setelah masjid pesantren resmi digunakan.
Bagi Hanif, keberadaan masjid tidak hanya menambah fasilitas pesantren. Ia berharap masjid tersebut dapat mendorong dirinya dan teman-teman santri untuk semakin disiplin menjalankan salat dan lebih sering datang ke masjid.
“Harapannya, jadi lebih nggak telat salatnya dan jadi rajin ke masjid,” ungkapnya.
Harapan sederhana Hanif menggambarkan fungsi penting masjid bagi kehidupan santri. Masjid bukan sekadar bangunan baru di lingkungan pesantren, tetapi ruang yang diharapkan menjadi bagian dari keseharian mereka—tempat melaksanakan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, belajar agama, mengikuti kajian, dan membangun kebiasaan beribadah.
Apalagi, Masjid Pesantren Miftahunnajah hadir sebagai bagian dari upaya memperkuat pemakmuran pesantren dan masyarakat sekitar. Setelah diresmikan, masjid diharapkan tidak hanya ramai pada momentum tertentu, tetapi terus hidup melalui aktivitas ibadah dan kegiatan keislaman.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Ketua DKM Masjid Pesantren Miftahunnajah, Ustaz Dimastra Rijaluddin Robbani, dalam khutbah Jumat perdana. Ia mengajak jamaah membangun kembali kedekatan dengan Al-Qur’an melalui membaca, menghafal, memahami, mengamalkan, dan menyampaikan nilai-nilainya.
Dengan demikian, keberadaan masjid menjadi bagian penting dari proses pendidikan santri: membentuk kebiasaan ibadah sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Hanif sendiri merupakan bagian dari keluarga yang memiliki kedekatan dengan Miftahunnajah. Ia merupakan anak dari dr. Rommy Robbany Masdan dan dr. Rarida Noor Hidayati.
Dari enam bersaudara, dua kakaknya juga menempuh pendidikan di Miftahunnajah. Salah seorang kakaknya telah menyelesaikan pendidikan di MA Miftahunnajah pada 2025, sementara kakaknya yang lain saat ini melanjutkan pendidikan di kelas 10 MA Miftahunnajah.
Kini, Hanif menjadi bagian dari generasi berikutnya yang menjalani pendidikan di lingkungan Miftahunnajah.
Baginya, hadirnya masjid baru memberikan pengalaman baru dalam kehidupan sebagai santri. Ada tempat yang semakin dekat untuk membangun rutinitas ibadah dan kebersamaan bersama teman-temannya.
Harapan Hanif pun sederhana, tetapi memiliki makna besar bagi proses pendidikan santri: semoga masjid baru benar-benar membuat salat semakin terjaga dan langkah menuju masjid semakin ringan.
Masjid telah berdiri. Kini tantangannya adalah menjadikannya hidup—dengan langkah-langkah kecil para santri yang datang untuk salat, membaca Al-Qur’an, belajar, dan terus bertumbuh menjadi generasi yang dekat dengan masjid.
admin




Tinggalkan Komentar