Info Sekolah
Sabtu, 21 Mar 2026
  • | Selamat Datang di Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah | Yayasan Pelita Umat Yogyakarta |
  • | Selamat Datang di Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah | Yayasan Pelita Umat Yogyakarta |
25 November 2025

Tauhid, Tawadhu’, dan Bahaya Pengkultusan dalam Dunia Pendidikan -Pembinaan Rutin Pegawai Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah

Sel, 25 November 2025 Dibaca 166x Berita Viral / Dakwah

Jum’at, 21 November 2025 – Ust. Abdullah Sunono, M.H.

Pembinaan rutin kali ini menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kemurnian tauhid serta amanah besar yang dipikul oleh para guru dan ustadz sebagai pendidik dan pembimbing umat. Kedudukan seorang pendidik adalah posisi mulia, namun juga sangat rawan menimbulkan penyimpangan apabila tidak disertai dengan sikap tawadhu’ dan penjagaan diri.

Suatu ketika Abu Rofi’ dan beberapa orang Yahudi bertemu dan berkumpul di hadapan Rasulullah SAW. Di antara mereka bertanya, “Apakah engkau ingin agar kami menyembah Anda sebagaimana orang Nasrani menyembah Isa bin Maryam?” Rasulullah SAW menjawab tegas:

> “Aku berlindung kepada Allah dari menyembah kepada selain Allah. Bukan untuk itu aku diutus.”

Setelah peristiwa tersebut, turunlah QS. Ali Imran ayat 79 sebagai penegasan bahwa para nabi tidak pernah meminta penghormatan berlebihan, melainkan mengajak umat untuk beribadah hanya kepada Allah.


Dalma kisah yang lain, Adi bin Hatim, seorang pembesar Nasrani dari Syam, datang kepada Rasulullah SAW dengan mengenakan kalung salib. Rasulullah kemudian membacakan QS. At-Taubah ayat 31.
_”Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahib (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah dan juga al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.”_

Adi bin Hatim memprotes, ia merasa bahwa kaumnya tidak pernah menyembah para rahib. Rasulullah menjelaskan bahwa ketika para rahib menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya dan umat mengikutinya tanpa kritis, itulah hakikat penyembahan.

Ustadz Abdullah Sunono menegaskan bahwa guru dan ustadz memiliki peluang besar untuk “disembah selain Allah”, baik secara ritual maupun secara makna umum seperti kepatuhan mutlak tanpa dasar syar’i, pengkultusan, atau penghormatan berlebihan.

Mengajar sesungguhnya adalah sarana untuk menjaga diri sendiri selaku pendidik.
Belajar dan mengajar tidak boleh berhenti sampai akhir hayat.

Organisasi harus berjalan dengan jenjang dan aturan. Tanpa aturan, akan muncul figur yang menjadi “tuhan kecil” dalam organisasi yang harus selalu dipatuhi tanpa evaluasi.

Kesempurnaan hanya milik Allah. Manusia harus terus memperbaiki diri dan beradaptasi dengan keadaan untuk menjadi pembelajar yang efektif

Adaptasi adalah sunnatullah. Guru yang enggan belajar akan berhenti berkembang dan terjebak dalam kesombongan.

> “Kita mendidik, sesungguhnya sedang membuka sebanyak-banyaknya tempat-tempat kebaikan untuk diri kita.”

Mengajar adalah investasi akhirat. Setiap kebaikan yang lahir dari murid adalah pahala yang terus mengalir.

Dalam Islam, rapat atau musyawarah memiliki kedudukan utama. Para pelaksana musyawarah disebut ahli syura. Rapat harus dilakukan secara efektif dan produktif.

> “Rapat harus efektif dan produktif; sebelum rapat, ahli syuro sudah mempersiapkan bahan rapatnya. Kadang pra-rapat lebih penting daripada rapat itu sendiri.”

Musyawarah tanpa persiapan hanya akan membuang waktu dan tidak menghasilkan keputusan berkualitas.

> “Sesuatu yang sudah berjalan rutin dalam kita bekerja, kadang-kadang justru menghilangkan hal-hal syar’i.”

Kesibukan dan rutinitas dapat membuat manusia lupa tujuan awal dan melupakan kewajiban-kewajiban agama. Karena itu:

> “Kewajiban syar’i itu untuk guru juga, bukan hanya untuk siswa atau santri.”

Guru bukan hanya mengajar syariat, tetapi wajib menjadi pelaku syariat.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar