
Sleman – Di tengah tantangan pendidikan modern yang menuntut perhatian lebih kepada perkembangan karakter peserta didik, MA Miftahunnajah Sleman menghadirkan salah satu program unggulan berupa Mentoring Terstruktur 1 : 10, sebuah sistem pembinaan yang dirancang secara sistematis agar setiap santri memperoleh pendampingan yang intensif, personal, dan berkelanjutan.
Berbeda dengan pola pembinaan yang bersifat massal, program ini menerapkan komposisi 1 mentor mendampingi maksimal 10 santri (mentee). Rasio tersebut menjadikan proses pembinaan lebih kondusif karena setiap santri memperoleh perhatian yang proporsional, ruang diskusi yang lebih terbuka, serta pendampingan yang menyentuh aspek akademik, spiritual, maupun pengembangan diri.
Program mentoring dilaksanakan setiap Jumat malam (malam Sabtu) selepas salat Isya, sehingga menjadi agenda rutin pekanan yang memperkuat kedekatan antara mentor dan santri. Dalam suasana kelompok kecil, mentor tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi sahabat belajar, motivator, sekaligus pembimbing yang memantau perkembangan setiap santri.
Menurut Waka Diniyah MA Miftahunnajah Sleman, Ust. Khoirudin Umar, program mentoring bukan sekadar forum kajian, melainkan proses pembentukan karakter yang dirancang secara bertahap.
“Program mentoring kami menitikberatkan pada pembentukan pribadi muslim ideal melalui pembinaan 10 muwasofat. Harapannya, santri tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki kepribadian Islami yang utuh sebagai bekal menghadapi kehidupan.” ungkapnya.
Istilah muwasofat merupakan karakteristik atau ciri kepribadian seorang muslim yang ideal. Dalam mentoring MA Miftahunnajah, sepuluh karakter tersebut menjadi arah pembinaan seluruh santri, yaitu:
Sepuluh karakter tersebut diintegrasikan dalam seluruh proses pembinaan sehingga mentoring menjadi wadah pembentukan pribadi yang seimbang antara ilmu, ibadah, akhlak, kepemimpinan, dan keterampilan hidup.
Program mentoring juga memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
Pada kelas X, materi difokuskan pada fondasi keislaman dan pembentukan karakter, seperti penguatan akidah, ibadah, akhlak, ukhuwah Islamiyah, birrul walidain, menjaga kehormatan diri, adab pergaulan, hingga urgensi menuntut ilmu.
Memasuki kelas XI, pembinaan diarahkan pada penguatan karakter muslim sejati melalui kajian 10 Muwasofat, penguatan ukhuwah, bakti kepada orang tua, adab berbicara dan mendengar, tafakur diri, kisah-kisah teladan para nabi, integrasi Islam dan ilmu pengetahuan, serta pembahasan mengenai keutamaan salat malam.
Sementara pada kelas XII, materi lebih menitikberatkan pada pendewasaan diri, kepemimpinan, rasa syukur, perjalanan menemukan jati diri, keteladanan Rasulullah dan para sahabat, serta kesiapan menjadi muslim yang siap berkontribusi di tengah masyarakat.
Keunggulan utama mentoring ini terletak pada pendekatan preventif. Dengan kelompok yang kecil dan hubungan yang dekat antara mentor dan santri, berbagai persoalan yang kerap menjadi perhatian masyarakat terhadap kehidupan remaja di lingkungan berasrama dapat dideteksi dan dicegah sejak dini.
Setiap mentor mengenal karakter, potensi, hingga tantangan yang dihadapi masing-masing santri. Pola ini membuka ruang komunikasi yang sehat, memperkuat ikatan emosional, sekaligus membangun budaya saling menghargai dan peduli antarsantri. Lingkungan pembinaan yang demikian menjadi ikhtiar nyata dalam meminimalkan berbagai persoalan seperti perundungan (bullying), konflik antarteman, maupun kesulitan adaptasi.
Selain pembinaan karakter, mentoring di MA Miftahunnajah juga diawali dengan identifikasi bakat dan minat, pendataan prestasi, serta pemetaan kompetensi santri. Setiap mentor membantu menyusun target perkembangan individu melalui pertemuan rutin, coaching, motivasi, refleksi perkembangan, hingga pendampingan mengikuti berbagai kompetisi.
Pembinaan tersebut kemudian diperkuat melalui berbagai klub pengembangan prestasi, seperti klub akademik, klub riset, klub bahasa, klub tahfiz, klub olahraga, dan klub seni, sehingga setiap santri memiliki ruang untuk mengembangkan potensi terbaiknya.
Melalui sistem pendampingan terstruktur 1 : 10, MA Miftahunnajah Sleman menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk pribadi muslim yang berilmu, berkarakter, mandiri, dan siap memberi manfaat bagi masyarakat. Inilah salah satu ikhtiar nyata madrasah dalam menghadirkan pendidikan yang humanis, personal, dan relevan dengan tantangan zaman.











Tinggalkan Komentar