
Dok. Para santri kelas 12 berkunjung lepas sholat isya ke rumah Asatiz
SLEMAN — Suasana penuh haru dan kekeluargaan mewarnai langkah siswa-siswi kelas XII MA Miftahunnajah Sleman menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA/MA Tahun 2026. Dengan penuh kerendahan hati, mereka bersilaturahim dari rumah ke rumah para asatiz Miftahunnajah untuk memohon doa restu sekaligus meminta maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan selama menuntut ilmu di madrasah.
Kegiatan ini menjadi salah satu tradisi tahunan yang terus dijaga oleh keluarga besar MA Miftahunnajah Sleman. Menjelang ujian penting, para siswa tidak hanya mempersiapkan diri dari sisi akademik, tetapi juga berusaha menata hati dengan memohon doa dan keridaan para guru yang telah mendampingi perjalanan pendidikan mereka.
Salah satu rumah yang dikunjungi adalah kediaman Ustaz Muslikh Bahaddur, Kepala MA Miftahunnajah periode 2018–2025. Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, para siswa menyampaikan maksud kedatangan mereka, bersilaturahim, memohon doa, serta meminta restu agar diberikan kelancaran dalam mengikuti TKA yang dijadwalkan berlangsung pada 2–5 November 2026.
Perwakilan siswa, Mbak Bariq, menyampaikan bahwa kedatangan mereka merupakan bagian dari ikhtiar untuk mendapatkan doa dan restu dari para ustaz beserta keluarga.
“Kita berniat baik, untuk meminta doa dan minta restu dari ustaz sekeluarga. Besok hari Senin, siswa kelas XII mau melaksanakan TKA sampai Kamis,” ungkapnya.
Dengan nada penuh ketulusan, Bariq juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah dilakukan selama menjadi santri.
“Kita banyak kesalahan ke ustaz. Kami mohon minta dimaafkan. Walaupun kadang kesalahannya tidak bisa dimaafkan, tapi semoga dimaafkan,” tuturnya.
Ungkapan sederhana tersebut menghadirkan suasana haru. Bagi para asatiz, momen seperti ini bukan sekadar kunjungan menjelang ujian, melainkan pengingat akan hubungan batin antara guru dan murid yang terbangun melalui proses pendidikan, pembinaan, dan kebersamaan selama bertahun-tahun.
Selain mengunjungi kediaman Ustaz Muslikh Bahaddur, para siswa juga berkeliling menyambangi rumah para ustaz yang berada di sekitar lingkungan Miftahunnajah. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus upaya mempererat tali silaturahim antara siswa dan para pendidik.
Tidak hanya kepada para asatiz, permohonan doa restu juga disampaikan kepada orang tua masing-masing. Dengan demikian, persiapan menghadapi TKA tidak hanya menjadi ikhtiar akademik, tetapi juga momentum untuk memperoleh doa, dukungan, dan keberkahan dari orang-orang yang selama ini mendampingi perjalanan hidup mereka.
Tradisi meminta doa restu ini mengajarkan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak semata-mata bertumpu pada kemampuan dan usaha pribadi. Ada doa orang tua, keikhlasan guru, serta keberkahan ilmu yang senantiasa diharapkan menyertai setiap langkah.
Kini, dengan bekal persiapan, doa, dan restu dari orang tua serta para asatiz, siswa kelas XII MA Miftahunnajah Sleman bersiap menghadapi TKA 2026. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan, kelancaran, dan hasil terbaik bagi seluruh peserta.
Tinggalkan Komentar