Sleman — Kehidupan di pesantren tidak selalu berada dalam ruang yang sederhana: benar atau salah, hitam atau putih, maupun sekadar persoalan surga dan neraka. Ada banyak persoalan yang berada di antara dua sisi tersebut dan membutuhkan kedalaman ilmu, kehati-hatian, serta kebijaksanaan dalam menyikapinya.
Pesan tersebut menjadi salah satu pokok penting yang disampaikan Pembina Yayasan Pelita Umat, Ustaz Trilasanto Joko Suprapto, dalam kegiatan Kajian Rutin Guru dan Karyawan Miftahunnajah, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB di Masjid Hasan AR Miftahunnajah Ngawen tersebut menjadi bagian dari agenda konsolidasi sekaligus pembinaan rutin bagi keluarga besar Ponpes Miftahunnajah. Sekitar 110 pegawai dari berbagai unit dan bidang turut mengikuti kegiatan ini.
Peserta berasal dari unsur pendidik dan tenaga kependidikan, termasuk personel dapur, laundry, hingga tenaga teknis lainnya yang mendukung operasional pendidikan dan kepesantrenan di unit PAUD, MTs, dan MA Miftahunnajah.
Dalam pembinaannya, Ustaz Trilasanto mengingatkan bahwa persoalan dalam kehidupan tidak selalu dapat diselesaikan dengan melihat segala sesuatu secara hitam-putih.
“Dalam kehidupan itu tidak hanya perkara benar dan salah, surga dan neraka, hitam dan putih, baik dan buruk. Ada perkara-perkara di antara itu. Ada perkara yang kompleks,” demikian pesan yang disampaikan dalam pembinaan.
Menurutnya, kondisi semacam itu juga menjadi bagian dari dinamika dalam mengelola pesantren. Para ustaz dan seluruh unsur pengelola pesantren akan berhadapan dengan berbagai persoalan yang membutuhkan ketepatan sikap.
Karena itu, belajar agama tidak cukup hanya untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Pemahaman agama juga diharapkan melahirkan sikap yang bijaksana, termasuk kemampuan menentukan skala prioritas, memahami perkara yang dapat ditoleransi, serta mengetahui kapan sebuah persoalan perlu dimaafkan.
“Orang yang belajar agama itu harusnya bisa bijaksana. Mana skala prioritas, mana yang perlu ditoleransi, mana yang perlu dimaafkan. Para asatiz pesantren harus mendalam pemahamannya dalam bab ini,” menjadi salah satu penekanan dalam materi pembinaan.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Trilasanto juga mengutip pesan hikmah dari Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengenai bagaimana menyikapi perbedaan.
Prinsipnya, manusia perlu membangun kerja sama dalam perkara-perkara yang disepakati, sementara dalam persoalan yang terdapat perbedaan pendapat, sikap saling menghargai dan bertoleransi perlu dikedepankan.
“Kita bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Kemudian kita saling bertoleransi dari permasalahan-permasalahan yang kita berbeda atau berselisih pendapat.”
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan pentingnya menjaga kerukunan di tengah keluarga besar pesantren. Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang mungkin terjadi, namun kerukunan dapat terus dirawat melalui komunikasi dan silaturahim.
Silaturahim, lanjut pesan yang disampaikan dalam pembinaan, menjadi salah satu jalan untuk menjaga hubungan tetap baik sekaligus menghilangkan prasangka di antara satu dengan lainnya.
Dengan demikian, pembinaan tersebut tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menghadapi persoalan, tetapi juga bagaimana membangun budaya kerja yang dilandasi kedewasaan dalam bersikap, saling memahami, dan menjaga hubungan antarsesama.
Kajian rutin guru dan karyawan ini merupakan bagian dari agenda pembinaan dan konsolidasi yang dilakukan secara berkala oleh yayasan. Selain menghadirkan pembinaan dari internal yayasan, kegiatan serupa juga menjadi ruang untuk mendapatkan penguatan wawasan dari narasumber eksternal.
Setelah sesi pembinaan oleh Ustaz Trilasanto, kegiatan dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh Ustaz Muhamad Mujari. Ia menggantikan Ustaz Talqis yang berhalangan hadir karena secara mendadak harus menjalani pengobatan terkait kondisi kesehatannya.
Melalui kegiatan rutin tersebut, keluarga besar Miftahunnajah tidak hanya diharapkan semakin kuat dalam menjalankan tugas masing-masing, tetapi juga memiliki kesamaan visi dalam menghadapi dinamika pendidikan dan kepesantrenan.
Sebab, mengelola pesantren bukan hanya tentang menjalankan aturan dan program, tetapi juga tentang menghadirkan kebijaksanaan dalam mengambil sikap, menjaga komunikasi, merawat silaturahim, dan membangun kerja sama di tengah beragam karakter serta persoalan yang dihadapi.
Pembinaan ini pun menjadi pengingat bahwa semakin kompleks persoalan yang dihadapi, semakin penting pula kedalaman ilmu dan kematangan sikap yang dimiliki oleh setiap unsur keluarga besar pesantren.
Tinggalkan Komentar