Sleman — Setelah penguatan tentang pentingnya meluruskan niat dalam mengemban amanah lembaga, agenda koordinasi BPH–PH MTs–MA Miftahunnajah dilanjutkan dengan penguatan dari Direktur Pesantren Miftahunnajah, Muhamad Mujari, Lc., M.Pd. Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya membangun ta’liful qulub—ikatan hati—sebagai kekuatan dalam mengelola dan mengembangkan lembaga.
Dalam forum yang mempertemukan Badan Pengurus Harian (BPH) Yayasan dengan Pengurus Harian (PH) Unit MTs dan MA tersebut, Direktur Pesantren mengajak seluruh unsur pengelola Miftahunnajah untuk tidak hanya bekerja dalam satu sistem, tetapi juga membangun ukhuwah dan ikatan hati sebagai keluarga besar perjuangan.
Menurut Muhamad Mujari, keberlangsungan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh sistem dan program kerja. Ada kekuatan lain yang tidak kalah penting, yaitu hubungan antarmanusia yang dibangun dengan ukhuwah dan saling menguatkan.
“Miftahunnajah adalah ukhuwah, adalah ikatan hati. Kita harus saling menguatkan seperti keluarga, bukan saling melemahkan,” menjadi salah satu pesan penguatan yang disampaikan.
Semangat tersebut penting karena setiap orang yang berada di dalam lembaga memiliki amanah dan beban tugas yang tidak ringan. Dalam kondisi demikian, kekuatan tim justru lahir ketika setiap person mampu menjadi penguat bagi yang lain.
Perbedaan cara pandang, gagasan, maupun pendekatan dalam menjalankan tugas hendaknya tidak menjadi sumber pelemahan, tetapi menjadi energi untuk saling melengkapi dan menyempurnakan.
Lebih jauh, Direktur Pesantren mengajak seluruh unsur pengelola Miftahunnajah untuk mengubah cara pandang terhadap aktivitas kelembagaan.
Bekerja di Miftahunnajah, menurutnya, tidak semestinya diposisikan sebagaimana seseorang bekerja di pabrik, kantor, atau tempat kerja pada umumnya.
“Kita bekerja bukan seperti di pabrik atau kantor, tetapi seperti di rumah sendiri,” pesan tersebut menggambarkan pentingnya rasa memiliki, kepedulian, dan tanggung jawab bersama terhadap lembaga.
Sebab, tugas yang diemban di Miftahunnajah bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan administratif atau menjalankan rutinitas kelembagaan. Di dalamnya terdapat misi dakwah dan pendidikan yang jauh lebih panjang.
“Kita sedang menjalankan tugas dakwah. Kita sedang menyiapkan kader-kader Islam, generasi Islami yang kelak akan memimpin bangsa ini,” demikian penguatan yang disampaikan.
Karena itu, setiap pekerjaan di lingkungan pesantren memiliki dimensi pendidikan. Setiap keputusan, interaksi, pembinaan, dan pelayanan kepada santri pada akhirnya menjadi bagian dari proses membentuk generasi.
Muhamad Mujari juga mengingatkan perbedaan mendasar antara lembaga pendidikan dengan industri yang menghasilkan produk fisik.
“Kita tidak sedang mencetak produk-produk fisik seperti pabrik sepatu. Kita membentuk manusia secara utuh.”
Membentuk manusia tentu merupakan pekerjaan yang kompleks dan membutuhkan proses panjang. Tidak cukup hanya dengan sistem yang baik, tetapi juga membutuhkan keteladanan, kepedulian, kesabaran, kebersamaan, dan kekuatan hati dari para pendidik serta pengelolanya.
Karena itu, tugas tersebut tidak mungkin dipikul secara individual.
Diperlukan kerja bersama, saling menguatkan, dan saling menjaga agar seluruh unsur yang terlibat tetap memiliki energi untuk menjalankan amanah besar pendidikan dan dakwah.
Di bagian akhir penguatannya, Direktur Pesantren berharap seluruh unsur BPH dan PH MTs–MA dapat bergerak seirama dalam mengembangkan Miftahunnajah.
Kesamaan irama bukan berarti setiap orang harus memiliki gagasan yang sama. Justru, setiap person memiliki gagasan, pengalaman, dan potensi ide yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut diarahkan menjadi energi bersama untuk membangun dan mengembangkan Miftahunnajah.
“Kita ini ring 1-nya Miftahunnajah. Kita pejuangnya Miftahunnajah,” menjadi penegasan tentang posisi strategis seluruh unsur pengelola yang hadir dalam forum tersebut.
Dengan demikian, setiap gagasan dan potensi yang dimiliki tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dapat diarahkan untuk memperkuat lembaga.
Koordinasi BPH–PH MTs–MA pun menjadi lebih dari sekadar agenda rutin bulanan. Ia menjadi ruang untuk menyatukan visi, memperkuat komunikasi, menjaga ukhuwah, sekaligus memastikan bahwa seluruh unsur pengelola bergerak dalam satu irama perjuangan.
Dari niat yang diluruskan, hati yang diikat, hingga langkah yang disatukan—Miftahunnajah terus dibangun dengan semangat kebersamaan untuk menyiapkan generasi.
Tinggalkan Komentar