Sleman, Mei 2026 — Kelulusan dari madrasah bukan sekadar berakhirnya masa belajar di bangku sekolah. Bagi siswa kelas XII, kelulusan adalah pintu menuju fase kehidupan yang lebih luas: melanjutkan pendidikan, memasuki dunia masyarakat, membangun kemandirian, hingga pada waktunya mempersiapkan kehidupan berkeluarga.
Kesadaran inilah yang menjadi salah satu landasan MA Miftahunnajah Sleman dalam menyelenggarakan Serasi Belia (Sekolah Pra Nikah Salimah Indonesia) Remaja, sebuah program kelas pranikah yang dirancang untuk membekali siswa kelas XII dengan kesiapan menghadapi kehidupan pasca kelulusan.
Program tersebut dilaksanakan selama dua pekan, mulai 4 hingga 18 Mei 2026, di lingkungan MA Miftahunnajah, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Seluruh siswa kelas XII mengikuti rangkaian program dengan antusias, serius, dan aktif terlibat dalam berbagai sesi yang dirancang secara sistematis dan terintegrasi.
Namun, Serasi Belia di MA Miftahunnajah tidak ditempatkan semata-mata sebagai kelas tentang pernikahan. Lebih luas dari itu, program ini menjadi ruang pembelajaran tentang kesiapan menjalani kehidupan dewasa—mulai dari kesiapan keagamaan, psikologis, kesehatan, hukum, ekonomi, hingga keterampilan hidup.
Kelas Pranikah yang Membahas Realitas Kehidupan Remaja
Rangkaian Serasi Belia diawali dengan registrasi dan pembukaan yang dihadiri Kepala Madrasah, jajaran pimpinan, serta perwakilan PD Salimah Sleman.
Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan stadium general bertema “Update Fenomena Remaja dan Keluarga Indonesia” serta kampanye “Remaja Keren Stop Bullying” yang disampaikan oleh Dra. Wita Hendardijati, Psikolog.
Sesi ini menjadi pintu masuk untuk melihat kehidupan remaja secara lebih luas. Siswa diajak memahami dinamika kehidupan remaja masa kini sekaligus pentingnya membangun lingkungan sosial yang sehat, aman, saling menghargai, dan bebas dari perilaku perundungan.
Dari sinilah kelas pranikah Serasi Belia tidak hanya berbicara mengenai apa yang terjadi ketika seseorang menikah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mempersiapkan dirinya sebelum memasuki fase kehidupan tersebut.
Lima Modul untuk Membekali Kehidupan
Materi Serasi Belia disusun dalam lima modul utama yang saling melengkapi. Kelima aspek tersebut merupakan bagian penting dari kesiapan seseorang dalam menjalani kehidupan secara dewasa dan bertanggung jawab.
Pertama, modul keagamaan.
Pada bagian ini, Deri Rizki Anggarani, S.Gz. menyampaikan materi mengenai pergaulan dalam Islam dan konsep keluarga harmonis berdasarkan nilai-nilai syariat.
Pembahasan diarahkan pada pentingnya menjaga kehormatan diri serta membangun hubungan yang sehat sesuai tuntunan agama. Dengan demikian, kehidupan sosial dan persiapan menuju keluarga tidak dilepaskan dari fondasi keislaman.
Kedua, modul psikologi.
Aspek psikologis menjadi bagian penting dalam kelas pranikah karena kesiapan membangun kehidupan tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga kemampuan mengenali dan mengelola diri.
Dra. Wita Hendardijati dan Silvie Trisdayanti, S.Psi., Psikolog, C.Ht memberikan wawasan mengenai perkembangan kepribadian remaja, refleksi diri, serta pentingnya penyembuhan luka pengasuhan.
Para siswa diajak mengenali diri, memahami emosi, dan membangun kesiapan mental untuk memasuki kehidupan dewasa.
Ketiga, modul kesehatan.
dr. Nurina Ariani memberikan edukasi mengenai kesehatan diri dan organ reproduksi secara edukatif dan proporsional.
Pembahasan ini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran siswa bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab pribadi yang perlu dipahami sejak usia remaja.
Keempat, modul hukum.
Materi hukum disampaikan oleh Imam Hidayat, S.Pd.I., M.Pd. dengan pembahasan yang mencakup hukum pernikahan, isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta pemahaman mengenai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Bekal ini diharapkan membantu siswa memahami konsekuensi hukum dalam kehidupan berkeluarga sekaligus membangun sikap bijak dalam menggunakan media digital.
Kelima, modul ekonomi dan keterampilan.
Kesiapan menghadapi kehidupan juga membutuhkan kemampuan mengelola sumber daya dan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Karena itu, Umi Haryani, S.E., M.Ak., Bapak Wardini, dan dr. Nurina Ariani memberikan pembelajaran mengenai pengelolaan keuangan pribadi, pentingnya menabung, serta membangun mindset investasi sejak dini.
Siswa juga memperoleh keterampilan dasar rumah tangga, termasuk manajemen dapur dan pengelolaan rumah, sebagai bagian dari pembentukan kemandirian.
Menariknya, SERASI tidak dikemas sebagai kegiatan satu arah. Selain penyampaian materi, siswa mendapatkan kesempatan mengikuti diskusi interaktif, tanya jawab, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test.
Pendekatan tersebut memberikan ruang kepada siswa untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mengolah, mempertanyakan, dan memahami materi berdasarkan realitas kehidupan yang mereka hadapi.
Seluruh rangkaian kegiatan dikemas secara aplikatif dan kontekstual sehingga materi lebih mudah dipahami serta memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, kelas pranikah SERASI hadir sebagai ruang belajar yang hidup dan bermakna, bukan sekadar rangkaian ceramah.
Pembekalan kehidupan melalui SERASI kemudian dilanjutkan dengan Daurah Al-Qur’an sebagai penguatan aspek spiritual siswa.
Dalam kegiatan ini, setiap siswa mendapatkan target bacaan Al-Qur’an yang harus diselesaikan selama masa daurah. Target tersebut disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa, namun tetap diarahkan untuk meningkatkan intensitas interaksi dengan Al-Qur’an, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas bacaan.
Daurah tidak berhenti pada pencapaian target tilawah. Siswa juga diarahkan untuk memperbaiki tajwid, memperindah bacaan, serta menumbuhkan kedekatan hati dengan Al-Qur’an.
Dengan demikian, setelah mendapatkan bekal tentang psikologi, kesehatan, hukum, ekonomi, keterampilan, dan kehidupan sosial, siswa kembali dikuatkan melalui kedekatan dengan Al-Qur’an.
Kepala MA Miftahunnajah Sleman menyampaikan bahwa SERASI yang dilanjutkan dengan Daurah Al-Qur’an merupakan bagian dari ikhtiar madrasah untuk membentuk lulusan yang seimbang antara ilmu, iman, dan amal.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa lulusan MA Miftahunnajah tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual yang kokoh. Daurah Al-Qur’an menjadi peneguh hati sekaligus bekal utama dalam menjalani kehidupan,” ungkap beliau.
Pesan tersebut menggambarkan arah pembinaan yang ingin dibangun MA Miftahunnajah. Kesiapan menghadapi kehidupan tidak dipahami secara parsial.
Materi keagamaan memperkuat fondasi iman. Modul psikologi membangun kematangan emosi. Materi kesehatan membangun kesadaran menjaga diri. Pembekalan hukum menumbuhkan tanggung jawab. Sementara modul ekonomi dan keterampilan membangun kemandirian. Semua itu kemudian dikuatkan dengan kedekatan kepada Al-Qur’an melalui daurah.
Rangkaian tersebut sekaligus selaras dengan visi MA Miftahunnajah Sleman dalam mencetak generasi Qur’ani yang berkarakter, mandiri, dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kelas pranikah SERASI bukan sekadar program menjelang kelulusan. Ia menjadi bagian dari cara madrasah memandang pendidikan secara lebih utuh.
Siswa kelas XII tidak hanya dipersiapkan untuk menjawab soal ujian atau meraih kelulusan, tetapi juga diajak memahami kehidupan yang akan mereka masuki setelah meninggalkan madrasah.
Mereka dibekali pemahaman mengenai diri, hubungan sosial, kesehatan, hukum, ekonomi, keterampilan rumah tangga, kehidupan beragama, serta penguatan spiritual melalui Al-Qur’an.
Dengan terselenggaranya Serasi Belia dan Daurah Al-Qur’an, MA Miftahunnajah Sleman berharap siswa-siswi kelas XII mampu melangkah menuju fase kehidupan berikutnya dengan kesiapan yang lebih utuh—secara intelektual, emosional, sosial, mandiri, dan spiritual.
Sebab, pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diperoleh di madrasah, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut menjadi bekal untuk menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Para lulusan diharapkan menjadi generasi yang mampu meraih keberhasilan di dunia sekaligus memiliki bekal untuk meraih keselamatan di akhirat.
Tinggalkan Komentar