Jum’at, 23 Januari 2026 – Bersama Ust. dr. Heru Mukti Pamungkas Pembinaan rutin pegawai Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah kembali dilaksanakan dengan mengangkat tema “Menegur Tanpa Melukai, Mendidik Tanpa Menghakimi: Disiplin Positif dalam Konteks Pesantren.” Pembinaan ini diikuti oleh guru, karyawan, serta musrif dan musyrifah PAUD–MTs–MA sebagai bagian dari ikhtiar bersama memperbaiki kualitas pendidikan dan pola pengasuhan santri. Pada kesempatan tersebut, pembinaan diisi oleh Ustadz dr. Heru Mukti Pamungkas, PPDS Psikiatri FK KMK UGM/RSUP Dr. Sardjito, dengan tema “Menegur Tanpa Melukai, Mendidik Tanpa Menghakimi: Disiplin Positif dalam Konteks Pesantren.” Dalam pembinaannya, Ust. dr. Heru menyampaikan bahwa teguran adalah bagian yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan, khususnya di pesantren. Setiap pendidik pasti berhadapan dengan santri yang melakukan kesalahan. Namun, persoalan utamanya bukan pada perlu atau tidaknya menegur, melainkan bagaimana cara menegur agar benar-benar mendidik, bukan melukai. Beliau menjelaskan bahwa banyak teguran yang secara niat ingin memperbaiki, tetapi justru meninggalkan luka batin, meruntuhkan harga diri, dan menanamkan rasa takut dalam diri santri. Teguran semacam ini sering kali menghasilkan kepatuhan semu, bukan kesadaran. Mayoritas santri berada pada fase usia remaja (12–18 tahun), fase yang ditandai dengan emosi yang masih labil, sensitivitas tinggi terhadap kritik, serta kebutuhan besar akan pengakuan. Pada fase ini, cara guru […]

Menegur Tanpa Melukai, Mendidik Tanpa Menghakimi – Pembinaan Rutin Pegawai Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah
Jum’at, 23 Januari 2026 – Bersama Ust. dr. Heru Mukti Pamungkas Pembinaan rutin pegawai Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah kembali dilaksanakan dengan mengangkat tema “Menegur Tanpa Melukai, Mendidik Tanpa Menghakimi: Disiplin Positif dalam Konteks Pesantren.” Pembinaan ini diikuti oleh guru, karyawan, serta musrif dan musyrifah PAUD–MTs–MA sebagai bagian dari ikhtiar bersama memperbaiki kualitas pendidikan dan pola pengasuhan santri. Pada kesempatan tersebut, pembinaan diisi oleh Ustadz dr. Heru Mukti Pamungkas, PPDS Psikiatri FK KMK UGM/RSUP Dr. Sardjito, dengan tema “Menegur Tanpa Melukai, Mendidik Tanpa Menghakimi: Disiplin Positif dalam Konteks Pesantren.” Dalam pembinaannya, Ust. dr. Heru menyampaikan bahwa teguran adalah bagian yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan, khususnya di pesantren. Setiap pendidik pasti berhadapan dengan santri yang melakukan kesalahan. Namun, persoalan utamanya bukan pada perlu atau tidaknya menegur, melainkan bagaimana cara menegur agar benar-benar mendidik, bukan melukai. Beliau menjelaskan bahwa banyak teguran yang secara niat ingin memperbaiki, tetapi justru meninggalkan luka batin, meruntuhkan harga diri, dan menanamkan rasa takut dalam diri santri. Teguran semacam ini sering kali menghasilkan kepatuhan semu, bukan kesadaran. Mayoritas santri berada pada fase usia remaja (12–18 tahun), fase yang ditandai dengan emosi yang masih labil, sensitivitas tinggi terhadap kritik, serta kebutuhan besar akan pengakuan. Pada fase ini, cara guru

