• Miftahunnajah IBS
  • 0274-5013916
  • miftah.annajah@yahoo.co.id

BERITA

  • PARA MUSA DARI MIFTAHUNNAJAH

    PARA MUSA DARI MIFTAHUNNAJAH

    Jangan tanyakan apa yang diberikan negara kepadamu, tetapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu. Kutipan pernyataan Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut mengingatkan kami pada saat menonton bersama “Battle of Surabaya” pada akhir bulan Agustus lalu.

    Film ini dimulai dengan sejarah-sejarah yang merekam peristiwa kemerdekaan Indonesia hingga meletusnya tragedi sepuluh November, yaitu perang yang diprajuriti arek-arek Suroboyo. Peristiwa tersebut kini dikenang abadi sebagai hari pahlawan.

    Pemeran utama dalam film ini adalah seorang tukang semir sepatu yang bernama Musa. Musa adalah anak yang baik, namun pada perjalanannya, orang-orang di sekitarnya meninggalkannya untuk selamanya. Meski demikian, Musa tetap tabah menghadapi dan tetap berjuang demi meraih kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya.

    Sebanyak seratus santri dari pondok pesantren Miftahunnajah Yogyakarta mengikuti kegiatan nonton bareng Battle of Surabaya ini dengan semangat. Selain sebagai refreshing bagi kami, agenda semacam ini juga bermanfaat karena banyak sekali pesan yang tercermin dalam dialog. Film yang berdurasi kurang lebih satu setengah jam ini juga menghadirkan gadis remaja yang turut menjadi kurir pengirim surat rahasia, bernama Yumna. Sosok Yumna banyak memberi inspirasi  melalui ungkapan yang ia katakan, diantaranya “Inilah negerimu, maka cintailah”, “Jadilah orang yang kuat dan jangan balas dendam.” Yumna mengajarkan pada kami untuk mencintai Indonesia serta tidak membalas keburukan orang lain dengan keburukan yang serupa.

    Kegiatan ini didonaturi oleh direktur Amikom selaku instansi pembuat film ini yang berteman baik dengan mantan Kepala Madrasah kami, yaitu Ustadz Kustriyanto. Nonton bareng ini sebenarnya dijadwalkan pada hari Rabu 2 September 2015. Namun, karena suatu hal, kegiatan ini pun dipercepat menjadi Senin 31 Agustus 2015. Di luar dugaan, percepatan jadwal justru membuat santri pondok pesantren Miftahunnajah mengembangkan senyum manisnya dan membuat bibir kami spontan bersorak, “Horeeeee!!!” sambil mengangkat tangan karena bahagia.

    Kami berangkat menggunakan tiga bus mini yang memungkinkan kami berseratus dapat berangkat bersama. Namun demikian, kami berangkat dengan beberapa aturan mengingat madrasah kami terdiri atas santri ikhwan dan akhwat. Perjalanan berangkat terasa tidak menjenuhkan karena kami isi dengan canda dan tawa. Sebaliknya, saat di perjalanan pulang, beberapa di antara kami mulai mengantuk karena matahari telah tenggelam dan digantikan oleh bulan dan bintang yang menghiasi langit kota Yogya di atas gedung Empire XXI yang besar itu.

    Kegiatan ini sekaligus memotivasi kami agar terus belajar dan menjadi orang yang berguna bagi negara dan dapat memajukan Republik tercinta ini. Tentu saja, kami tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan para pahlawan yang telah berusaha mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Para pahlawan juga mati-matian mempertahankan kemerdekaan ini sehingga kami bisa menikmati hasil dari pengorbanan darah dan keringat mereka. Selain itu, film animasi yang digarap bocah-bocah Yogya ini diharapkan dapat mencetak generasi yang cinta tanah air dan semangat dalam menuntut ilmu.

    Oleh:
    Faizal Hanif Asy Syauqi
    Santri kelas VIII dan Anggota Klub Kepenulisan MTs Miftahunnajah

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks